Fenomena sneakers di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda, udah bukan hal baru. Dari gang sempit sampai pusat perbelanjaan, lo pasti nemu aja anak-anak pake sneakers kece, entah itu seri langka atau yang lagi hype banget. Tapi, pernah kepikiran gak sih, sepatu yang sering kita sebut "sepatu sejuta umat" ini, sebetulnya jadi simbol apa? Cuma gaya-gayaan aja, atau ada makna lain yang lebih dalam, bahkan cenderung miris?
Awalnya, sneakers itu identik sama olahraga. Buat lari, basket, atau sekadar gerak. Fungsional banget, lah. Tapi seiring berjalannya waktu, sneakers bermetamorfosis jadi lebih dari sekadar alas kaki. Dia jadi bagian dari fashion statement, penanda identitas, bahkan bisa dibilang representasi dari "siapa lu" di mata orang lain. Apalagi kalo udah bicara sneakers edisi terbatas, kolaborasi desainer, atau yang harganya selangit. Otomatis, orang yang pake langsung auto-naik level di mata sebagian orang.
Nah, di sinilah mulai kerasa ada gap yang lumayan lebar. Buat anak skena, punya sneakers hype itu kayak punya tiket masuk ke lingkaran tertentu. Lo diakui, respected, dan dianggap "ngerti" fashion. Padahal, gak semua orang punya privilege buat beli sneakers mahal. Ada yang harus nabung berbulan-bulan, bahkan ada yang sampe jualan barang lain cuma buat nutupin hasrat punya sepatu impian. Agak ngenes, ya?
Ini yang bikin kita bertanya-tanya: apakah sneakers branded ini beneran jadi simbol status yang valid? Atau justru cuma jadi alat buat penipuan diri? Maksudnya, kita jadi terlihat "wah" di luar, padahal di dalam mungkin finansial lagi seret atau harus ngorbanin kebutuhan lain yang lebih esensial. Kayak cuma ngejar validasi dari lingkungan aja, bro.
Fakta di lapangan nunjukkin kalo banyak anak muda yang rela melakukan apa aja demi sepasang sneakers idaman. Dari rela ngutang, kerja sampingan sampai larut, atau bahkan sampe maksa ortu. Ini bukan cuma tentang suka sama sepatu, tapi udah jadi bentuk tekanan sosial yang implisit. Kalo gak punya yang lagi hype, rasanya kayak ketinggalan zaman atau gak gaul.Padahal, sneakers mahal itu gak menjamin kebahagiaan atau kesuksesan, kan? Itu cuma sepasang sepatu. Tapi mindset di kepala banyak orang, khususnya di generasi sekarang, udah terlanjur embedded kalo sneakers branded itu indikator "punya". Otomatis, mereka yang gak mampu keep up dengan tren ini bisa ngerasain tekanan, bahkan sampe insecure.
Ironisnya, fenomena sneakers ini justru makin mempertajam kesenjangan sosial. Yang kaya makin pamer kekayaan, yang biasa aja jadi makin ngerasa "kurang". Lingkaran setan konsumerisme ini bener-bener bikin pusing. Gimana caranya kita bisa menikmati fashion tanpa harus terjebak dalam jebakan status dan ilusi kemewahan?
Mungkin, udah saatnya kita redefine lagi makna dari sneakers. Bukan lagi tentang harga atau kelangkaan, tapi lebih ke kenyamanan, gaya personal, dan cerita di baliknya. Gak perlu maksa diri buat punya sneakers yang lagi hype kalo itu cuma bikin dompet jebol dan batin gak tenang. Hidup itu bukan cuma tentang validasi dari barang branded, sob.
Lagian, di era sekarang, banyak banget brand lokal yang kualitasnya gak kalah oke, harganya lebih reasonable, dan desainnya juga gak kalah ciamik. Kenapa harus terpaku sama brand luar yang harganya bikin nangis di pojokan? Mungkin ini saatnya buat kita lebih bijak dalam berkonsumsi dan lebih menghargai apa yang udah kita punya.
Jadi, di antara simbol status dan alat penipuan diri, sneakers hype itu berada di garis yang sangat tipis. Keputusan ada di tangan lo. Mau jadi bagian dari pusaran konsumerisme yang gak ada habisnya, atau mau jadi pribadi yang lebih otentik, pede dengan pilihan sendiri, dan gak gampang terpengaruh sama hype sesaat?
